Minggu, 15 November 2009

Road Show: Mabuk Tanaman

















Road show.
Itu mungkin istilah yang pas untuk aktivitas saya memasuki tahun 2008. Sejak diundang Majalah Pesona untuk berbicara mengenai Peluang Bisnis Tanaman Hias di Godong Ijo bersama Ir. Slamet, di depan sekitar 80 ibu-ibu partuh baya, saya jadi 'ketagihan' dan 'ditagih' orang untuk tampil di beberapa kota.

Terus terang, itu gara-gara saya dan istri (Maria) diwawancara di Majalah Pesona. Konon,lalu ada banyak permintaan untuk diadakan acara talkshow. Majalah yang memuat kami terbit November. Awal Desember, Mbak Shinta, redaksinya, mengkontak saya untuk acara itu. Langsung saya tolak. Karena saya lagi bosan membicarakan tanaman.

Sehari pulang dari plesir ke Bali, Mbak Shinta telepon lagi, dan mengajak lagi. Karena memang saya merasa sudah fresh, saya sanggupi. Begitulah ceritanya.

Arkian, setelah di Godong Ijo, saya dibooking Penerbit Agro Media Pustaka. Kalau bukan 'pulang kampung' saja mungkin tidak saya tanggapi ajakan itu. Penerbit tersebut sudah berulang kali mengundang saya berbicara di toko-toko buku. Tapi saya tolak. Pertama, saya memang sibuk, kedua ya, malas. Dugaan saya, para pemirsa di toko buku bukan target audience saya. Saya takut, terus terang saja, selagi mendengar saya bicara, mereka sibuk tengok kiri-kanan, karena ada 'pemandangan indah' lewat.

Setelah itu ada beberapa undangan lagi, supaya ngomong di hari Sabtu. Dari beberapa daerah. Termasuk dari Banjarmasin, yang meminta saya untuk berbicara tentang Pesona Anthurium di depan para pejabat dan undangan umum, dalam sebuah lelang anthurium. Patner saya, katanya, Dorce Gamalama. Honor, lumayan. Tapi tanggal bentrokan. Jadi saya tolak. Dan saya 'hibahkan' kepada Ir. Slamet, Direktur Operasional Godong Ijo. Alhamdulillah, Pak Slamet oke-oke saja.

Terakhir, saya jualan abab (abab itu napas, dalam bahasa Jawa) ke Samarinda, atas undangan Pemerintah Kota Samarinda. Sekaligus menjuri tiga kontes: anthurium, adenium dan aglaonema. Karena hubungan baik, dengan Pak Camat Drs Sugeng Chjaeruddin, Pak Sugiyanto, Event Organizer yang sehari-hari Sekdes Desa Karanganyar, Pak Safruddin, Kadin Diknas dan beberapa teman di sana, tentu saja saya tidak bisa menampik. Jadi persis di Hari Imlek, 7 Februari, saya justru ada di Samarinda.

Seperti biasa, sambutan para pejabat setempat selalu menyenangkan. Saya diajak kian kemari untuk makan enak. Mulai dari menyantap Ikan Patin, Bandeng Tanpa Duri, Udang Galah sampai Kepiting Lada Hitam disodorkan sampai kenyang. Belum cukup, perut saya juga masih dijejali Durian dan Lay, durian yang buahnya warna kuning, baunya seperti durian tapi rasanya kayak pohung. Jadi, itung-itung wisata kuliner. Bak artis saja, rombongan saya (Pak Iwan dari Permata Orchids dan Rudi Poerwanto dari Majalah Flona) juga diajak siaran langsung di Radio Borneo, radio swasta setempat yang punya pendengar kalangan profesional muda dan eksekutif.
Waktu pulang, saya dapat oleh-oleh banyak. Ada yang berupa kardus, ada yang berupa cendera mata dan berupa batik Samarinda.

Tampaknya road show saya masih akan benar-benar berlanjut. Akhir Maret, insya Allah saya terbang ke Lampung. Ibu Christy, kenalan, dan sahabat saya di sana, mengundang saya untuk jadi juri. "Pak Kurniawan akan jadi tamu spesial suami saya," katanya via SMS.

Hehehe..... Hidup memang aneh. Siapa nyana saya jadi sibuk bicara tanaman hias, dan bukan dunia kewartawanan.***

Tulisan Saya di Kontan Dibajak Abi di Tabloid Tumbuh?

(Tanpa sengaja, saya menemukan surat yang ditulis Retty N. Hakim ini di wikimu.com. Tak disangka, menyebut nama saya, dan juga tulisan saya di Tabloid Kontan, Mimpi Indah Bersama Anthurium, (dimuat Tabloid KONTAN Edisi Khusus, Oktober - November 2007). Rupanya tulisan tersebut telah dibajak dan dimuat di tabloid Tumbuh (edisi 7, terbitan 5 - 19 Desember 2007) dengan nama penulis bernama Abi. Saya belum pernah membaca tulisan dimaksud di Tumbuh. Saya juga tidak membaca surat Brontho Dwiatmoko (Tangerang), pembaca, yang mempersoalkan duplikasi tulisan itu. Redaksi KONTAN sendiri tidak pernah meminta klarifikasi saya. Untuk diketahui, tulisan saya itu adalah atas pesanan redaksi, dan saya tulis khusus untuk KONTAN. Sebagai seorang penulis dan lama berkecimpung di dunia pers, tentu sangat naif saya mengirim ulang tulisan pesanan khusus ke tempat lain dengan menggunakan nama lain. Ketika saya bekerja sebagai redaktur sejumlah media dulu, saya termasuk yang paling tidak bisa mentoleransi penulis yang mengirim tulisan ganda ke beberapa penerbitan sekaligus. Jadi mungkin saja, redaksi KONTAN bersikap seperti saya, no comment saja. Hanya sungguh menyedihkan, sampai sekarang masih banyak orang/ penulis memilih jalan pintas. Malas berkreasi dan malas berpikir. kj)

Artikel ...oh...Artikel!
Oleh: Retty N. Hakim
Sabtu, 22-12-2007 20:35:59

Ketika tulisan saya yang berjudul "Apa Arti Kejujuran dan Integritas Seorang Penulis?" saya turunkan ke wikimu, sebenarnya saya mengharapkan para wartawan senior memberikan sedikit tuntunan etika jurnalistik.

Bung Berthold Sinaulan, salah satu komentator dalam artikel itu, adalah wartawan senior di media cetak. Tapi entah kemana wartawan senior lain yang sering saya lihat namanya di wikimu (Mohon maaf bagi komentator lain yang mungkin saja adalah wartawan senior juga).

Tidak berapa lama kemudian penulis yang saya singgung dalam tulisan di atas mengirimkan e-mail kepada saya dengan penjelasan yang sedikit lebih panjang dari tulisan penjelasan beliau di Kompas.

Pertama dia menjelaskan bahwa dia merasa benar karena seorang redaktur Opini harian Kompas dalam mengisi in house training di The Indonesian Institute menjelaskan bahawa dalam menulis opini sah-sah saja mendaur ulang tulisan dengan catatan bahwa tulisan yang didaur ulang sebaiknya dikirimkan kembali ke media cetak yang sama, serta masih adanya relevansi untuk daur ulang tulisan tersebut.

Kemudian hal lain yang diangkatnya adalah bahwa pada tanggal 11 September ada juga pembaca yang protes mengenai tulisan ganda Radhar Panca Dahana. Tapi pada kesempatan itu surat pembaca dan surat penjelasan dari Radhar Panca Dahana terbit bersamaan.

Kemarin (21 Desember 2007) secara kebetulan saya membaca dua buah surat pembaca yang mempermasalahkan artikel ganda.

Satu surat saya baca di Mingguan bisnis dan investasi Kontan, Minggu ke-tiga Desember 2007. Dalam kolom surat dan opini dari Brontho Dwiatmoko (Tangerang) dipertanyakan kesamaan antara artikel "Mimpi Indah Bersama Anthurium" oleh Junaedhi yang sudah dimuat oleh Tabloid Kontan edisi khusus Oktober 2007 (serta sudah dikutip dengan mencantumkan sumber oleh website Toekang Keboen Nursery), dengan tulisan "Fenomena Anturium" pada Tabloid Tumbuh edisi 7, terbitan 5 - 19 Desember 2007 oleh seorang penulis bernama Abi. Pak Brontho ingin tahu apakah Abi dan Junaedhi adalah orang yang sama atau berbeda, dan bila ia adalah orang yang sama apakah boleh menurunkan artikel yang sama dengan nama berbeda.

Surat kedua saya temukan di harian Bisnis Indonesia, 21 Desember 2007, sebuah penjelasan tentang artikel ganda yang terbit bersamaan pada tanggal 19 Desember 2007 di dua media cetak Indonesia. Tulisan opini berjudul "Pengelolaan Surat Berharga Negara 2008" tulisan Bhimantara Widyajala (Direktur Surat Berharga Negara, dari Dirjen Pengelolaan Utang) ini bisa muncul bersamaan karena penulis yang merasa tidak memperoleh tanggapan dari editorial Kompas menarik kembali tulisannya via e-mail (18 Desember 2007, setelah menunggu kabar selama satu minggu dari 11 Desember 2007). Harian Bisnis Indonesia sedikit mempersalahkan penulis karena tidak menginformasikan bahwa sudah mengirim tulisan yang sama ke harian berbeda.

Penolakan sebuah artikel dari sebuah media cetak nasional memang sangat tergantung dari editorialnya. Dalam pengalaman saya, harian Kompas termasuk yang cukup rajin menanggapi naskah walaupun isinya adalah penolakan naskah! Tapi ada harian yang setelah berbulan-bulan tak ada kabar baru mengirimkan penolakan. Dan ada lagi yang tidak ada kabar sama sekali. Sebagai penulis terkadang nilai jual berita sangat tergantung kecepatan terbitnya naskah. Karena itu tidak heran kalau Radhar Panca Dahana dan Bhimantara Widyajala ketika merasa tidak mendapat tanggapan, langsung mengirimkan tulisan yang sama ke redaksi harian lain (setelah merasa menarik kembali tulisannya). Sebenarnya apakah ini kesalahan mereka? Bila mereka mencantumkan telah mengirimkan tulisan itu ke harian lain dan menariknya, apakah redaksi harian yang kedua akan memuatnya?

Tulisan pertama saya ke Ohmy News International adalah artikel daur ulang dari sebuah artikel yang telah beberapa minggu tidak ditanggapi oleh redaksi harian yang saya kirimi berita. Hal ini saya cantumkan pada berita kepada editor, bahwa berita tersebut sudah saya kirimkan tapi sudah saya cabut kembali via e-mail karena tidak ada tanggapan dari redaksi.

Dahulu saya sedikit berprasangka pada redaksi media cetak Indonesia. Setelah artikel yang saya tuliskan saya kirimkan, tidak ada tanggapan sama sekali. Tapi beberapa waktu kemudian tulisan sejenis muncul dengan pengolahan yang lebih mendalam dan lebih menarik. Terus terang saya merasa ide saya tercuri. Tapi setelah mengenal wikimu.com, sebuah portal jurnalisme warga, saya bisa melihat sendiri betapa pada saat yang sama bisa ada beberapa orang yang mempunyai ide tulisan yang sama.

Di wikimu hal ini lebih terasa karena editorial, yang dalam istilah Bung Berthold dalam artikel terbarunya (http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5367), menjadikan "dunia jurnalistik" yang dikenalnya menjadi "cair". Ketika Gus Wai sudah lebih dahulu menaikkan tulisannya tentang pemenang Asian Idol, tulisan saya yang masuk kemudian juga dinaikkan oleh editor. Satu hal yang sama, dari sudut pandang yang mungkin hampir sama, suatu hal mustahil bisa terjadi di media cetak konvensional.

Demikian juga di Ohmy News International, ketika saya menaikkan tulisan tentang perasaan saya sebagai warga yang gubernurnya merasa terhina oleh Australia ternyata seorang citizen reporter lain yang bermukim di Jepang sudah menaikkan pula tulisannya dari sudut pandang yang berbeda. Karena sudut pandang berbeda ini mungkin editor meloloskan kedua tulisan tersebut.

Menulis opini memang agak berbeda dengan reportase perjalanan misalnya. Bagi saya pribadi sebuah opini terkadang agak sulit untuk dituliskan kembali dengan sudut pandang berbeda. Tulisan pertama saya di Ohmy News International mengalami daur ulang yakni penambahan sudut pandang subyektif dari penulis. Ini satu ciri berbeda dari media cetak konvensional yang lebih menekankan pandangan obyektif dengan media jurnalisme partisipatori warga yang lebih personal. Media cetak konvensional saat inipun tampaknya mulai bergeser semakin personal dalam menyampaikan opini.

Setelah memperoleh kesempatan langka berkunjung ke Seoul, selain beberapa tulisan untuk Wikimu dan Ohmy News International saya juga sempat mengirimkan tulisan ke harian Jakarta Post dan Tabloid Rumah (sayang tidak online). Sudut pandang yang saya turunkan tentunya berbeda-beda walaupun tempat yang saya kunjungi adalah tempat yang sama. Tulisan saya di harian Jakarta Post memakai nama panggilan saya Retty N. Hakim, sementara tulisan saya yang berhubungan dengan arsitektur di Tabloid Rumah memakai nama KTP saya Maria Margaretta. Perbedaan nama ini memang karena dari dulu bila saya menulis tulisan yang bersifat arsitektur saya lebih suka memakai nama lengkap yang mungkin akan dikenali oleh mantan dosen saya (Biar beliau-beliau itu bangga ilmunya tidak saya buang percuma).

Sebenarnya saya sendiri agak ragu-ragu menulis calon tulisan saya ke dalam blog karena takut tiba-tiba tulisan tersebut sudah terbit di sebuah harian tanpa pernah saya ketahui sudah dibajak. Tapi dengan memiliki komunitas yang mengusung partisipatori warga, saya percaya akan banyak teman yang akan saling memberitahukan bila tiba-tiba saja tulisan kontributor di wikimu muncul dalam nama orang lain di sebuah harian ataupun di sebuah blog (tanpa mengutip asal berita dan nama penulis). Dan ketika tulisan saya tidak sempat saya kirimkan ke media cetak (karena sekarang lebih banyak mendahulukan media internet daripada media konvensional) maka portal citizen journalism maupun blog saya akan menampung tulisan saya agar suara saya ada gaungnya.

Bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan etika pengiriman tulisan menurut pandangan redaktur profesional dari media konvensional?

toekangkeboen: Menjual Tanaman di Internet

(Dipublikasikan oleh: Pustaka Tani 17 Sept.2005)

Ketika Kurniawan Junaedhie bercerita akan menjual tanaman hias di Internet, banyak petani tanaman hias melecehkannya. “Mana ada petani main Internet dan buka Internet, kata mereka,” cerita Mas KJ, demikian biasa bapak dua anak ini disapa. Sekarang omzet toekangkeboen.com sebulan rata-rata Rp 40 juta. Pembelinya berasal dari seluruh Indonesia. Mau pesan tanaman hias klik saja http://www.toekangkeboen.com/!

Kurniawan Junaedhie, mantan wartawan, sudah lama berhobi mengoleksi tanaman hias. Ia terutama mengoleksi tanaman hias jenis Adenium dan Euphorbia, dua jenis tanaman hias yang sedang popular saat ini. “Saya punya puluhan Adenium dan belasan Euphorbia selain tanaman hias lainnya seperti Philodendron, Dracaena,” kata Junaedhie bercerita.

Mei 2004 Junaedhi ditawari oleh pemilik kios tanaman hias tempat ia biasa membeli tanaman hias untuk dikoleksi di kawasan perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), apakah berminat menyewa lahan di bursa tanaman hias. Bursa tanaman hias BSD waktu itu di dekat gedung Geman Center.

“Konsep saya simpel saja. Saya mau jual tanaman hias di Internet. Atau dengan kata lain, saya mau mempromosikan sekaligus memasarkan produk-produk saya melalui Internet. Jadilah saya membuat toekangkeboen.com,” kata pemilik situs komersil Internet indokado.com ini.

Tidak semua sependapat dengan gagasan Junaedhi menjual tanaman di Internet. Teman-temannya para petani tanaman hias melecehkannya. Ada teman ahli marketing terkenal (Junaedhie tidak bersedia menyebutkan namanya) berpendapat Junaedhie anti-marketing dan anti-logika.

Semua itu tidak menyurutkannya. Junaedhie memberi dua alasan yang membuatnya terus maju. Pertama, ia senang dengan tanaman hias, tahu dan punya produk tanaman hias. Kedua, ia tahu bagaimana berbisnis di Internet. Situs Indokado.com atau indoflorist.com adalah bukti dari keberhasilan lainnya berdagang di Internet.

Dengan modal awal sekitar Rp 25 juta, untuk sewa saung, membuat bangunan saung, dan beli tanaman awal, sekarang bisnis toekangkeboen.com sudah beraset lebih dari Rp 400 juta, belum termasuk aset fisik, dengan omzet per bulan rata-rata Rp 40 juta.

Sejak diluncurkan toekangkeboen.com, berdatanganlah pembeli-pembeli online dari luar kota, luar Pulau Jawa di seluruh Indonesia. “Yang datang ke saung saya pun kebanyakan dari luar BSD, luar Tangerang, luar kota, bahkan luar pulau,” ungkap KJ.

Sehingga sekarang KJ berani berpromosi, “Siap kirim ke seluruh Indonesia.” Dan memang, “Tiada hari tanpa pengiriman tanaman hias. Hampir setiap hari jadawal padat, begitu istilah kami.” Junaedhie dibantu oleh enam pekerja yaitu dua penjaga saungnya di BSD, dua orang bagian produksi, dan dua orang lagi bagian pengiriman.

Ketika sebelum terjadi tsunami, toekangkeboen.com mengirim ke pembelinya dari Lhokseumawe. Toekangkeboen.com, selain kota-kota di Pulau Jawa, pernah dapat pesanan dari Medan, Binjai, Tanjung Morawa sampai Luwuk di Sulawesi, dan bahkan ke Jayapura.
Sejauh ini KJ tidak kesulitan mengirim orderan. “Ke Jayapura bisa dicapai hanya dua hari saja. Lebih cepat jika pengiriman port-to-port. Maksudnya barang diambil sendiri oleh pembeli di bandara.

KJ yakin bisnis tanaman hias berprospek bagus di masa depan. “Indonesia begitu kaya floranya. Dan lahan juga banyak. Banyak tanaman-tanaman kita dibawa ke luar negeri, kemudian kembali lagi ke sini sudah menjelma menjadi hasil silangan yang mahal harganya,” ujar KJ.

“Sayangnya banyak anak-anak muda Indonesia yang justru malu menjadi petani. Susah benar mencari karyawan yang mau jadi petani. Hanya satu hari atau paling banter satu minggu, mereka keluar, dan memilih mengganggur daripada harus bekerja hanya jadi petani pula. Padahal mereka hanya tamat SLTA,” kata KJ mengeluh.*** (Harry Suryadi)

Banting Setir Alih Profesi

[Tulisan ini pernah dimuat Suara Pembaruan, 9 Okt. 2006. http://www.suarapembaruan.com/News/2006/10/09/Urban/urb01.htm]

Hare gene keluar dari pekerjaan? Gila. Cari kerjaan sulit, berani-beraninya keluar?" Pertanyaan seperti itu akan spontan keluar jika seseorang menyatakan diri keluar dari pekerjaan.

Memang benar. Berani keluar dari pekerjaan pada saat seperti ini bisa dibilang "gila". Bisa jadi ada yang menyebut "bunuh diri". Maklum, tingkat pengangguran saat ini menurut data Bappenas per Februari 2006 tercatat 10,4 persen.

Namun, jalan kehidupan, siapa tahu. Kurniawan Junaedhie (50) melepaskan jabatan pemimpin redaksi sebuah majalah demi menjadi "tukang kebun". Kur, panggilan akrab Kurniawan Junaedhie, sukses menjalankan usaha di bidang tanaman hias. Raden Sirait melepaskan kariernya yang sedang menanjak di Bank Central Asia demi menjadi perancang busana.

Dua orang yang disebutkan tadi hanya contoh. Namun, keduanya membuktikan diri mampu hidup di lahan baru dengan langkah mantap.

Sebagai wartawan, Kur bukanlah sembarang wartawan. Selain mampu menjejak jabatan struktural tertinggi, dari tangannya lahir tiga buku, yakni Ensiklopedi Pers Indonesia (1990), Menggebrak Dunia Wartawan (1993), dan Rahasia Dapur Majalah di Indonesia (1995).

Kur keluar dari pekerjaannya semula pada usia produktif, 44 tahun. Bukan hanya itu, ia keluar dari pekerjaannya justru ketika sedang hangat-hangatnya euforia pers. Bukan pilihan mudah, memang, tetapi ia sudah memutuskan. Ia meninggalkan "kenyamanannya" demi apa yang disebutnya suatu upaya "aktualisasi diri".

Bukan hanya atasan di perusahaan tempatnya bekerja memintanya berkali-kali mempertimbangkan kembali keinginan untuk mundur, namun juga orang-orang terdekatnya. Ayahnya di antaranya. "Tapi memang keinginan saya sudah bulat," katanya saat itu.

Kur tidak pernah merasa menyesali keputusannya. Buktinya usahanya berjualan tanaman hias yang diberi nama Toekang Keboen pun sukses. Membuka gerai di kawasan Bumi Serpong Damai, pembelinya berdatangan dari seluruh penjuru Tanah Air.

Kur memang tidak sekadar berjualan. Kemahiran mengutak-atik komputer mengantarnya mampu menjadi pedagang plus. Di samping pembeli langsung datang ke gerainya, pembeli di luar kota bisa memesan melalui situs Toekang Keboen yang buka 24 jam.

Pekerjaan sebagai wartawan disebutnya menjadi bekal berharga, karena sebagai wartawan ia belajar manajemen, belajar disiplin, belajar mengelola keuangan, dan tentu membaca karakter orang. Kur mengibaratkan lompatan kariernya dengan sederhana saja, ibarat seorang pelayan toko yang kini memiliki toko sendiri, atau seorang karyawan bengkel yang kini memiliki bengkel sendiri. Hanya saja ia tidak memilih membangun usaha media massa sendiri, namun lebih memilih mengembangkan hobinya. Sejak menjadi wartawan ia sudah gemar mengoleksi tanaman. "Kebetulan banyak yang ingin membeli koleksi saya. Hobi itu yang saya kembangkan," Kur beralasan.

Menggeluti lahan barunya, hanya satu bekalnya, bersabar dengan berguru kepada alam.

Menggapai Impian
Raden Sirait meninggalkan dunia perbankan untuk menekuni dunia barunya pada 2001. Dengan mengusung label Luire, kini orang mulai meliriknya setelah kebaya rancangannya dikenakan finalis Kontes Dangdut Indonesia, Miss Indonesia 2006, dan busana sehari-hari Puteri Indonesia 2005 Nadine Chandrawinata. Tujuh kebaya rancangannya juga dikenakan Miss Indonesia 2006 selama mengikuti ajang pemilihan Miss World di Polandia.

Gara-gara melihat tayangan televisi sejak kecil, ia terobsesi menjadi orang terkenal. Namun, hingga dewasa ia tak tahu bagaimana menggayuhnya. Yang ia jalani sejak kecil adalah terbiasa bekerja keras membantu ayahnya menghidupi keluarga dengan menerima jahitan, serta membantu ibunya mengolah sawah.

Raden memerlukan waktu panjang untuk bisa menemukan pegangan hidupnya yang mantap. Ia menemukan dunianya justru pada saat sudah bekerja di perbankan, saat menjabat manajer pemasaran.

Masa-masa itu justru menjadi pembelajaran baginya mengenai mode. Ia gemar mengamati rekan-rekan kerjanya yang menggemari mode dan busana.

Bekerja sama dengan kakaknya, Rospita Sirait, ia merintis karier di bidang mode dan busana.

Kini bukan hanya kebaya rancangannya yang dikenal, namun juga salonnya. Memang sedikit berbeda dengan Kur yang mendasari alih profesi karena perlu aktualisasi diri, Raden lebih ingin menggapai impian masa kecilnya, menjadi orang terkenal.

Tak jauh beda dengan Raden, Sylvi Francis banting setir dari bidang keuangan ke seni. Demi mengembangkan ide yang benar-benar asli hasil karyanya dari A sampai Z, pada 2002 Sylvi rela meninggalkan kariernya di Trimegah Securities. "Waktu itu jabatan saya lumayan tinggi lho, Vice President Corporate Communication di Trimegah," katanya.

Sebelumnya, 1993-1996, Sylvi bekerja untuk Harvard Institute International Development yang menjadi konsultan di Departemen Keuangan. Dari situ, Sylvi bekerja di PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) manajer di bidang corporate communication dan pengembangan teknologi informasi hingga tahun 2000. Baru setelah itu masuk Trimegah.

Kini Sylvi menekuni pekerjaan baru di bidang high fashion silk painting, yaitu melukis dengan media kain sutera yang hasilnya bisa digunakan untuk fashion. Dengan pekerjaan barunya, Sylvi bisa bebas menuangkan segala idenya secara orisinal, tanpa harus dicampur dengan ide-ide orang lain.

Hasil lukisan Sylvi di atas kain sutera bisa dijumpai di exclusive gift shop Ritz Carlton Hotel dan Four Seasons Hotel Jakarta.

Selain melukis di atas kain sutera, Sylvi juga menjadi art consultant, terutama untuk brand image suatu perusahaan. "Sebagai orang yang lama menggeluti bisnis keuangan, saya juga merancang strategi pemasaran perusahaan melalui seni atau membentuk brand image melalui seni. Hal ini belum banyak dilakukan perusahaan di Indonesia," kata Sylvi.

Kini Sylvi juga sibuk mengajar melukis dan membaca puisi di sekolah pengembangan anak, Dramschool. Ia juga membuka kursus silk painting di Kemang. "Dengan menekuni bidang baru ini, saya sekarang bisa menuangkan semua ide-ide saya. Saya benar-benar puas. Dan dari segi penghasilan juga ada peningkatan," kata Sylvi.

Selain Kur, Raden, dan Sylvi, tentu masih banyak orang lain yang telah alih profesi. Seorang konsultan sumber daya manusia menyebutkan, dibutuhkan dorongan kuat untuk alih profesi. Apalagi jika selama ini merasa karier sudah mantap. Alih profesi sangat mengandung risiko. Bukan hanya ketidakpastian, namun juga harus memulai semuanya dari awal.

Namun, bukan berarti tidak mungkin. Kur, Raden, dan Sylvi sudah memulainya. Kur bahkan secara bercanda mengatakan, ada sebelas temannya yang sudah berancang-ancang mengikuti jejaknya. [A-18/N-4/S-24]

Mulanya Adalah Hobi

[Dipublikasikan oleh Majalah Bahana, August 2007. http://www.bahana-magazine.com/?p=productsMore&iProduct=207&sName=Mulanya-Adalah-Hobi]


Siapa pun yang terkena cinta konon akan takluk pada pesonanya. Kurniawan Junaedhie contohnya. Siapa nyana dengan cinta ia dapat meraih jutaan rupiah. Kurniawan Junaedhie tidak pernah bermimpi muluk ketika memulai bisnisnya tahun 2004. Yang tak bisa ia pungkiri, setiap melihat tanaman hias, ia langsung jatuh cinta. Kecintaan ini membuatnya nekat menekuni bisnis di sektor flora. Gerai tanaman hias yang diberi nama Toekang Keboen dipusatkan di kawasan tanaman hias BSD City, Serpong. Profesi sebagai wartawan pun ditinggalkan. Padahal ia telah menekuninya kurang lebih 30 tahun. Bahkan pernah menjadi wartawan harian terbesar di Indonesia. Keinginannya sederhana. Dengan berbisnis, ia bisa lebih dekat dengan keluarga yang kerap ia tinggalkan dulu hanya demi mengejar berita.

HANYA BEKAL CINTA

Alumnus Sekolah Tinggi Publisistik (STP) ini tidak ingat betul berapa modal awalnya. Bahkan ia tidak mempersiapkan secara khusus. Tapi sejak lama ia rajin mengumpulkan tanaman hias. “Begitu kepingin, langsung buka gerai, pajang tanaman-tanaman koleksi saya.”

Hobinya ini pernah mendapat tantangan istri. “Rumah sudah kayak hutan,” begitu keluh istrinya. Namun, ia tetap bertekun. Siapa sangka, dari hobinya ini ia bisa meraup untung besar. Dalam sebulan, ia bisa menjual ribuan tanaman hias. Yang termurah sekitar Rp40.000,- sedangkan yang paling mahal berharga puluhan sampai ratusan juta rupiah. Kalau dihitung keuntungan 20% saja per bulan, bayangkan berapa rupiah uang yang masuk ke kantongnya! Pada-hal keuntungan per bulannya bisa sampai 50% dari hasil jual. Cck..cck...cck...!

Pria kelahiran 24 November 1964 tersebut menyebut tidak ada skill khusus. Cukup mencintai tanaman. Kecintaan ini yang membedakan Junaedhie dengan pedagang lain. Bagi pedagang yang hanya cari untung, tanaman adalah komoditi dan harus—setidaknya—mengalirkan rupiah keuntungan. Sebuah alamat buruk kalau tanaman tak laku. Karena itulah beberapa pedagang nekat menjual tanaman hias dengan harga murah, kalau perlu diobral. Tapi bagi Junaedhie, rumusan itu tidak berlaku. Ia tetap mencintai dan memelihara tanaman-tanaman hiasnya yang tidak laku.

Jemaat Gereja Katholik St. Laurentius, Alam Sutra, Serpong betul-betul menggeluti bisnis ini. Bahkan, ia sudah sampai tahap menikmati. “Setiap hari kalau melihat kehijauan tanaman, ada rasa damai. Tanaman yang dulu kecil, bertumbuh besar. Bibit yang dulu disemai kini tumbuh besar,” ujarnya menerawang.

Kenikmatan itu juga yang tidak membuatnya patah semangat ketika kehilangan tanaman senilai Rp100 juta lantaran dicuri. Ia juga tak putus asa sekalipun sampai sekarang belum bisa mengirim tanaman hiasnya ke luar negeri. Alasan birokrasi dan tudingan miring bahwa tanaman hias adalah biang pembawa hama semakin memperkecil kesempatan mengirim tanamannya. Telanjur cinta, ia belajar melihat arti positif lain. “Membuka lapangan kerja adalah keuntungan tersendiri. Sedikitnya saya telah ’me-ringankan beban pemerintah’ dalam mengatasi pengangguran,” tuturnya.

EMPAT PILAR KESUKSESAN

Kejujuran menempati prioritas dalam bisnis yang dilakukan Junaedhie. ”Bisnis tanaman hias adalah bisnis yang unik. Tanpa dibantu orang-orang jujur, bisnis saya akan bangkrut. Setelah kejujuran, dibutuhkan juga kerja keras, dapat dipercaya, dan menghormati pelanggan. Kami sangat keras menerapkan nilai ini,” jelasnya.

Dengan keempat modal ini Junaedhie tidak gentar bersaing. Masih segar dalam ingatannya empat tahun lalu. Saat itu belum banyak pedagang tanaman hias yang menggunakan website sebagai strategi marketing dan promosi karena dianggap peminat tanaman hias bukan user friendly dengan internet. Tapi kini sudah berubah. “Pesaing sudah banyak mengikuti jejak kami menggunakan internet. Tapi kami tetap tampil beda. Ada news update di website kami (www.toekangkeboen.com). Kami menyediakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanaman. Karena itu kami dapat disebut sebagai one stop shopping plants and accessories.”

Sedikit memberi wejangan, ia menyarankan jangan berpikir memulai bisnis seperti buka lapak. Apalagi menja-dikan bisnis tanaman hias hanya peker-jaan sampingan. ”Bisnis yang maju harus dikelola secara total dan fokus. Sayangnya, karena hanya dianggap hobi, jadi banyak orang menjalankan bisnis sebagai hobi,” kata Junaedhie.

Kini, istrinya yang dulu tak setuju dengan hobinya pun turut kepincut. Bahkan sekarang membuka toko florist dan menjualnya sampai ke manca negara. (Rumintar Silitonga)

Sukses Mengembangkan Bisnis Nursery di Internet

[Tulisan ini dipublikasikan oleh Wirausaha.com. http://www.wirausaha.com/profil_bisnis/387-kurniawan_junaedhie__sukses_mengembangkan_bisnis_nursery_di_internet.html]

Tak seperti pebisnis tanaman hias kebanyakan yang hanya menggunakan lahan dan nursery sebagai etalase produk yang dijajakan, Kurniawan Junaedhie memilih internet sebagai etalase online melengkapi pelayanan di bagian penjualan bagi pembeli. Toko online 24 jam tersebut diberi nama toekangkeboen.com yang dimulai semenjak tahun 2004. Tentu saja ketika itu belum banyak orang yang menjalankan hal serupa. Jika pun ada, pebisnis tanaman lebih familiar dengan hanya memajang iklan baris di internet.

Justru hal yang belum biasa tersebut mendorong keyakinan pasangan Kurniawan Junaedhie dan Maria Nurani untuk memajang nursery di internet dalam sebuah website khusus sehingga siapa pun dan di mana pun berada bisa memesan dengan mudah dari penjuru Tanah Air. Bagi sebagian orang mungkin membayangkannya sebagai bisnis yang rumit. Mengirimkan pesanan tanaman ke berbagai daerah di Tanah Air. Tapi pasangan ini justru telah berhasil menjalankannya.

Memang semua tak selalu berjalan mulus. Di awal usaha, beberapa kali komplain datang dan tak jarang yag meminta ganti rugi. aklum, produk pertanian termasuk rentan untuk mengalami kerusakan dalam perjalanan. Namun belajar dari pengalaman, sambung Kurniawan, semenjak 2 tahun terakhir masalah tersebut dapat diatasi dan tidak pernah muncul lagi.

Awal order dipenuhi dengan tanaman koleksi Kurniawan. Ya, Kurniawan merupakan pencinta tanaman hias, dan suka mengoleksi. “Saya hobiis, suka mengumpulkan tanaman. Dan ketika sudah merasa overstock, akhirnya dijual,” kata Kurniawan.Pesanan yang berdatangan siap dilayani dengan pengiriman yang selalu sedia. Buka 24 jam untuk pemesanan, dan pembeli cukup menanti di tempatnya, itu lah kelebihan yang ditawarkan melalui toekangkeboen.com. Sesuai layanan yang diberikan tentu saja sasaran pasar disesuaikan. “Dari awal Kami optimistis dengan bisnis ini. Sasarannya ada para profesional muda yang sibuk dan telah biasa dengan internet,” ujar Maria.

Meskipun kini telah semakin banyak bisnis sama bermunculan, toekangkeboen menurut Junaedhie tetap punya kelebihan. Maklum, pria yang pernah berprofesi sebagai wartawan selama 25 tahun ini selalu membuat websitenya dinamis, selalu ada informasi up date, selalu aktif berjualan, bahkan menyempatkan diri menulis buku seputar bisnis tanaman hias. Dari empat buku, dua diantaranya diterbitkan pada tahun 2006 berjudul Buku Panduan Praktis Perawatan Aglaonema dan Pesona Anthurium Daun. Sementara dua buku terbaru yang akan terbit September 2007 ini berjudul Jurus Sukses Jual Tanaman Hias dan Jadi Kaya dengan Berbisnis Anthurium.

Pada awalnya Junaedhie mengakui kurang menyadari pentingnya nursery sebagai toko offline yang sama pentingnya dengan toko online. Baru di tahun yang ketiga ia membenahi toko offline, showroom tempat di mana pembeli bisa langsung berinteraksi dan memilih tanaman yang diinginkan. Alhasil, saat ini permintaan di toko online dan offline imbang, 50:50.

Semakin hari toekangkeboen.com pun semakin dikenal dan lebih banyak mendapat order. Di Awal usaha, promo di beberapa tempat seperti pada yahoo, google pernah dilewati. Dalam perjalanan kemudian toekangkeboen juga sering dibahas di berbagai media. Alhasil dengan perkembangannya, hingga saat ini menurut Maria, toekangkeboen.com bisa meraih omset hingga Rp100 juta per bulan. Bicara keuntungan, Kurniawan mengatakan bisnis tanaman biasa mengumpulkan keuntungan minmal 20% dari omset.

Peluang Waralaba

Bicara soal bisnis ke depan, Kurniawan masih punya beberapa obsesi. Diantaranya lebih mengembangkan usaha sehingga lebih banyak menampung tenaga kerja. Saat ini menurutnya, ada 7 karyawan yang ada di showroom dan 4 orang di kebun. Itu baru karyawan tetap. Selain itu keinginan untuk mewaralabakan toekangkeboen.com tengah berusaha ia diwujudkan. Kami sedang buat sistemnya. Tapi saat ini beberapa pecobaan telah dijalankan, diantaranya di Lampung dan Purwokerto, dengan nama yang sama, barang disediakan. Targetnya, franchise toekangkeboen.com akan dimulai pada tahun 2008.

Usaha ini dirintis pertama kali dalam bentuk showroom seluas 1 (satu) kavling di Bursa Tanaman Hias BSD City, berlokasi di samping kawasan German Centre, BSD, yang kini menjadi Pusat Hiburan Keluarga Ocean Park.

Belum genap setahun menempati kompleks tersebut, tepatnya Februari 2006, gerai toekangkeboen 'dipindahkan' ke tempat baru, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Pusat Tanaman Hias BSD CITY, persisnya pada Mei 2006, nursery lebih luas, menempati dua kavling dengan total luas 500 meter persegi, yang kemudian beberapa bulan berikutnya menambah 1 kavling baru sehingga menempati 3 kav dengan luas total 750 meter persegi. (SH)

Showroom dan Nursery:
Kav. 16, 17 & 18 Pusat Tanaman Hias BSD City
Serpong, Tangerang, 15322

Mimpi Indah Bersama Anthurium

(Tulisan ini pernah dimuat di Tablod KONTAN Edisi Khusus, Oktober - November 2007

Sudah hampir setengah tahun ini, pesona anthurium berhasil memelet orang Indonesia. Coba Anda tanya secara random pada semua pedagang tanaman, tanaman apa yang kini banyak diburu orang. Jawabnya tentu: anthurium mulu, seperti tidak ada tanaman hias keren lainnya. Apa sih hebatnya tanaman yang mirip talas ini?

Tapi memang baru tahun ini terjadi, pemain burung walet dan pengumpul cengkih 'berselingkuh' dengan anthurium. Banyak pula juragan-juragan yang mata bisnisnya tadinya tak ada urusannya dengan tumbuh-tumbuhan, --seperti pengusaha bus, supermarket, bahan bangunan, kontraktor, perusahaan bakery atau pabrik sepatu--, kini juga mulai sibuk bermain anthurium.

Orang kantoran yang terlanjur ikutan berbisnis anthurium, juga mulai pada gelisah. Banyak di antara mereka, sudah ngebet kepengen segera pensiun dini. Maklum, gaji mereka ‘cuma’Rp.10 juta per bulan, sementara dari menjual satu pot anthurium mereka bisa menyabet untung sampai 20 juta.

OKB atau Orang Kaya Baru juga banyak. Ada petani kecil yang berhasil membeli Honda Jazz dari jualan anthurium. Banyak juga ibu rumahtangga yang tiba-tiba merasa jagoan dari suaminya karena berhasil memiliki sebuah kulkas empat pintu atau TV plasma baru hasil barteran dengan anthurium miliknya yang sudah nyaris diberikan pada pemulung.

Serunya, bisnis anthurium terbuka bagi siapa saja. Selain ibu rumah tangga dan bapak-bapak investor, kini banyak juga sopir truk, sopir bajay, tukang ojeg sampai porter bandara yang ikut jadi pelaku bisnisnya.

Begitu hebatnya pamor anthurium, belakangan ini juga banyak melahirkan importir-importir anthurium dadakan. Sohib Thailand saya di Bangkok lapor, banyak pemilik nursery dari Indonesia yang kedapatan keluyuran ke segala pelosok negeri Gajah itu untuk berburu anthurium. Wah, kita jadi bangga, karena orang Indonesia di Thailand ternyata termasuk pembeli anthurium VIP. Artinya, asal ada barang, berani bayar mahal. Jika di Thailand barang kosong, maka mereka tak sungkan-sungkan lompat ke Filipina. Pendeknya jangan sampai pulang dengan tangan hampa. Gengsi dong. Karena yang berharap mendapat barang di tanah air sudah banyak.

Yang menarik untuk dicatat, banyak pula bakul tanaman yang sebelumnya mengklaim diri sebagai spesialis penjual tanaman hias tertentu kini tanpa malu-malu banting setir ikut jualan anthurium. Banyak Alibaba Orchids mendadak menjadi Alibaba Nursery. Dan yang tadinya sering disebut sebagai pakar dan suka diundang berdemo, juri atau berceramah tentang adenium, aglaonema, atau anggrek, juga sudah mulai beralih profesi berbisnis anthurium, baik secara terang-terangan atau umpet-umpetan. Pendeknya, berantakan deh.

Ujung-ujungnya harga anthurium bak harga indeks saham. Berloncat-loncatan kian kemari. Fluktuatif. Saban hari hamper selalu ada SMS masuk, menawarkan anthurium, atau mengabarkan harga biji naik dan seterusnya. Harga hari ini, rupanya bisa berbeda dengan harga besok, apalagi harga kemarin.Kini lazim orang menawar tanaman hias daun itu dengan cuma menyebut merek mobil. Maksudnya, harganya sesuai dengan harga mobil yangd isebut. Mobil yang paling populer dijadikan patokan misalnya, Avanza, atau Inova dari berbagai tipe., meskipun kadang-kadang terkesan gagah-gagahan belaka.

Batasan end user, konsumen atau kolektor pun pupus sudah. Karena pada dasarnya mereka semua kini kepengen jadi investor. Beli satu pot kecil kecambah saja, para pemula sudah bermimpi akan kaya mendadak.

Para maling tentu saja ingin kaya mendadak juga dong. Akibatnya mereka semakin over acting. Semua tanaman asal dianggap anthurium, pasti digasak. Bagi maling rupanya anthurium jernis apa saja dianggap mahal sehingga mereka lebih senang menggondol tanaman ini daripada menggondol Yamaha Mio, misalnya. Celakanya, berita kriminalitas ini sering tidak pernah dimuat di media massa, karena mungkin sudah terlalu rutin terjadi. Yang mendapat berkah dari maraknya eforia Anthurium banyak juga. Ada penjual pakis yang jadi media tanam utama anthurium, produsen atau penjual pot jumbo, penerbit atau pengarang buku panduan merawat anthurium, dan sejenisnya. Pendeknya, anthurium membawa berkah bagi semua. Termasuk untuk rakyat.

Di Jawa Tengah muncul istilah ‘ekonomi kerakyatan’ segala. Hebat ya? Yang dimaksud, para juragan atau investor membagi-bagikan benih atau tanaman induk kepada rakyat sekitar melalui sistem plasma. Bisa cuma-cuma, bisa dibagi dengan harga murah dibanding harga pasar. Tujuan sebenarnya supaya maling tidak berkeliaran, beaya centeng bisa ditekan, karena warga bisa berbisnis pula. Tapi tanpa disadari cara itu membuat ekonomi di kawasan itu bangkit dengan sendirinya. Ada uang jutaan menggelontor masuk ke pedesaan. Muncul kepentingan bersama, menjaga stabilitas keamanan, sekaligus menjaga pamor anthurium.

Para penguasa daerah yang smart kini rajin bikin pameran sebagai ajang promosi sekaligus marketing anthurium. Hasilnya luar biasa. Kota Wonogiri yang notabene pernah disebut daerah minus, mendapat ‘devisa’ lumayan ketika menyelenggarakan pameran anthurium karena banyak orang kaya di daerah itu datang ke sana untuk membelanjakan uangnya. Tak hanya di Jawa. Di Samarinda hal yang sama terjadi juga. Ketika mengadakan pameran bulan lalu, pak wali dan pak camat merasa gembira, karena daerahnya mendapat masukan ‘devisa’ dari daerah-daerah di sekitarnya. Saking bangganya, para pejabat itu berambisi menjadikan kota kayu itu sebagai tujuan wisata agro.

Tak pelak lagi, kita tengah dihanyut mimpi indah bersama anthurium yang kini sudah terlanjur dijuluki Si Raja Daun. Sudah muncul anggapan, jika ingin kaya secara instant, berbisnislah anthurium. Sedikitnya jika ingin dianggap kaya, beli dan peliharalah anthurium. Seperti emas dan berlian, anthurium mendadak sontak menjelma menjadi perhiasan sekaligus barang investasi.

Selama enam bulan terakhir ini, harga anthurium memang gila-gilaan. Harga biji anthurium jenmanii, misalnya, bergerak naik secara spektakuler: dari hanya Rp. 35rb, Rp. 135 rb, kini saat tulisan ini dibuat sudah mencapai Rp. 250rb per biji. Kalau disemai, dan jadi kecambah sudah dihargai Rp. 300rb. Kalau sudah tumbuh dua daun harganya naik lagi jadi Rp.450rb.

Apa artinya? Artinya dahsyat. Jika Anda punya satu anthurium bertongkol satu, dengan asumsi tongkol atau spadix itu memuat 1000 biji saja, Anda sudah bisa bermimpi jadi menjadi milyarder dadakan, apalagi kalau anthurium Anda bertongkol 5 buah.

Di Karangpandan, Solo, ada penjual anthurium, --untuk merayu pembelinya-- menyebut anthurium sebagai ‘pabrik uang’, yang “pemiliknya tidak perlu takut digerebek dan dituduh subversif.

Coba bisnis macam apa di zaman sekarang, yang dalam tempo tidak berapa lama kita bisa meraup untung sedemikian lumayan?

Tapi sekali lagi itu teori, Bung.

Demam anthurium Wave of Love atau Gelombang Cinta beberapa pekan lalu, jadi contoh. Selama September harga jenis anthurium berdaun keriting tebal yang populasinya dikenal banyak karena banyak dimiliki rakyat itu tiba-tiba bergolak. Dari harga Rp. 5 juta, mencapai harga Rp. 90 juta untuk jenis indukannya. Tapi tak sampai sebulan, harga itu tahu-tahu merosot tajam. Ada yang menduga, para pemainnya kurang bermain cantik. Maklum, berbeda dengan pemain Jenmanii yang umumnya para cukong, pemain Wave of Love adalah kelas menengah bawah. Tentu saja mereka sangat rentan terhadap lebaran, anak-anak sekolah, atau libur akhir tahun. Sadar lebaran mendekat, biji dan bibitan diobral. Harga hancur lebur.

Ada yang cerita, --mudah-mudahan hanya kabar burung-- di sebuah daerah pinggiran di Jakarta, ada orang bunuh diri gara-gara ‘kalah’ main anthurium Wave of Love. Dia melego dua mobilnya untuk membeli satu pot anthurium dengan harapan bisa membeli empat mobil, tahu-tahu harga melesak jatuh.

Pertanyaan klise: sampai kapan orang siuman dari mimpinya? Orang yang bermimpi mana tahu, kapan bakal siuman, itu jawabannya. Selamat bermimpi.***

Kurniawan Junaedhie*)
Praktisi tanaman hias & pengarang buku2 Anthurium